Pengembangan Intusisi Matematika Berdasarkan Paparan Prof. Marsigit tentang Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika

Pengembangan Intusisi Matematika  Berdasarkan Paparan Prof. Marsigit tentang  Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 1- 4
Oleh
Adelina Diah Rahmawati/14301241029
Pendidikan Matematika A 2014
Dalam pembelajaran matematika kita tidak terlepas dengan adanya masalah matematika. Saat siswa dihadapkan pada masalah matematika yang menuntut untuk segera ditemukan penyelesaiannya, mungkin saja siswa dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan segera. Hal ini dapat terjadi apabila mereka telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik mengenai masalah tersebut. Sebaliknya ketika mereka mengalami kebuntuan dalam menyelesaikannya, tentu mereka akan cenderung berusaha menyajikannya dengan perantara atau model (yang berupa gambar, grafik, atau coretan-coretan lainnya) agar secara intuitif masalah tersebut mudah diterima dan dipahami. Pada kondisi seperti inilah kemampuan intuisi dipandang penting untuk dimiliki siswa, sebab intuisi akan membantu siswa dalam melakukan lompatan pikiran ke arah pemecahan masalah yang diiginkan.
Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Intuisi memegang peranan penting dalam proses pembelajaran matematika. Poincare menyatakan bahwa tidak ada aktivitas yang benar-benar kreatif dalam sains dan matematika jika tanpa adanya intuisi. Hal senada juga dinyatakan oleh kant bahwa landasan dari semua penalaran dan keputusan dalam matematika adalah intuisi. Karena jika tidak berlandaskan intuisi maka penalaran tidaklah mungkin terjadi. Dalam pembelajaran matematika intuisi sangat membantu siswa dalam menemukan ide-ide atau gagasan untuk membangun dan mengontruksi konsep atau prinsip matematikanya. Intusisi dalam diri seseorang dapat diperoleh melalui pengalaman, dimana pengalaman tersebut berasal dari keterampilan matematika yang diperoleh dari pengetahuan matematika dan didukung pelhe metode, sikap, dan motivasi yang ada di dalam diri siswa.
Setiap siswa mempunyai intuisi yang memang sudah merupakan komponen dari bagian dirinya. Sehingga intuisi antar siwa satu dengan siswa lainya berbeda tingkat ketanjamannya. Intuisi sebagai pendorong kemauan bertindak sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya. Seorang yang memiliki intuisi tinggi maka semakin besarlah orang tersebut untuk sukses. Oleh karena itu guru diharap untuk bisa mengembangkan intuisi peserta didiknya.
Dalam proses pembelajaran matematika hendaknya guru tidak bersikap otoriter serta merasa dirinya paling benar karena dengan sikap otoriter maka siswa akan kehilangan intuisinya.  Apabila siswa kehilangan intuisinya maka siswa akan kesulitan dalam menemukan ide-idenya. Maka dari itu pembelajaran yang inovatif sangat diperlukan karena dengan pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru memfasilitasi siswa-siswanya umtuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Sehingga dengan pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu mengembangkan intuisi yang dimiliki siswa. Berikan siswa kebebasan dan kesempatan untuk menemukan gagasan atau ide-ide matematika dalam upayanya untuk membangun dan mengontruksi konsep-konsep matematikanya.
Menurut Thompson intuisi merupakan budaya bermatematika oleh karena itu penting sekali untuk membudayakan matematika. Karena intuisi sangat berperan penting dalam pembelajaran matematika maka membudayakan matematika merupakan tanggung jawab semua pihak diantranya yaitu guru, sekolah, dan orang tua. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk membudayakan matematika adalah meberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitas mereka dalam memahami matematika dengan proses belajar mengajar yang inovatif. Dengan demikian pengalaman yang mereka terima pun lebih banyak dan intuisi matematika mereka pun juga ikut berkembang.
Pembudayaan matematika di sekolah dapat diawali dengan mendefinisikan hakekat matematika sekolah. Ebbutt, S dan Straker, A., (1995) mendefinisikan matematika sekolah sebagai: (1)kegiatan matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan, (2) kegiatan matematika memerlukan kreativitas, imajinasi, intuisi dan penemuan, (3) kegiatan dan hasil-hasil matematika perlu dikomunikasikan, (4) kegiatan problem solving adalah bagian dari kegiatan matematika, (5) algoritma merupakan prosedur untuk memperoleh jawaban-jawaban persoalan matematika, dan (6) interaksi sosial diperlukan dalam kegiatan matematika. Pembudayaan matematika di sekolah dapat menekankan kepada hubungan antar manusia dalam dimensinya dan menghargai adanya perbedaan individu baik dalam kemampuan maupun pangalamannya. Jika matematika dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, tetapi peran individu sangat menonjol dalam pencapaiannya. Tetapi peserta didik dapat dipandang sebagai makhluk yang berkembang (progress).
Intuisi yang dimiliki siswa tidak hanya dapat dikembangkan melalui membudayakan matematika tetapi juga dapat melalui kompetensi. Kompetensi yang dimaksud disini adalah bagaimana seorang guru mampu menyampaikan materi yang mudah dipahami dan bermakna kepada siswa. Oleh karena itu diperlukan metode pembelajaran yang bervariasi yang disesuaikan dengan karakteristik siswanya sehingga siswa tidak hanya dikempangkan kemampuan formalnya saja melainkan juga kemampuannya dalam menyampaikan ide-ide atau gagasan misalnya dalam pemecahan masalah sehingga nantinya akan dihasilkan intusisi dalam diri siswa.

Daftar Pustaka
https://powermathematics.blogspot.co.id/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan.html
https://powermathematics.blogspot.co.id/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_29.html
https://powermathematics.blogspot.co.id/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_6933.html
https://powermathematics.blogspot.co.id/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_6614.html

Komentar