Riset Fenomenologi

Riset Feminologi mendiskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena. Adapun tujuan utama riset ini adalah untuk mereduksi pengalaman individu pada fenomena menjadi diskripsi tentang esensi atau intisari universal. Pengalaman indovidu diperoleh melalui fenomena misalnya insomnia, kesendirian, kemarahan serta dukacita. Dari berbagai fenomena yang dialami individu barulah para peneliti kualitatif mengembangkan deskripsi gabungan tentang esensi dari pengalaman tersebut bagi semua individu. Deskripsi ini berupa apa yang mereka alami dan bagaimana mereka mengalaminya.
Stewart dan Mickunas (Dalam John, 2015: 106) menekankan empat perspektif dalam feminolog
  1. Pengembalian terhadap tradisional filsafat
  2. Filsafat tanpa persangkaan.
  3.  Intensionalitas kesadaran
  4.  Penolakan terhadap dikotomi objek-objek
  5. Seorang individu yang menulis feminologi tidak lupa memasukkan sebagaian pembahasan tentang asumsi asumsi filosofis tentang feminologi di samping metode dalam penelitian ini.

Terdapat beberapa ciri yang secarakhas terdapat dalam semua studi feminologi yaitu
  •  Penekanan terhadap fenomena yang hendak dieksplorasi berdasarkan sudut pandang konsep atau ide tunggal.
  •  Eksplorasi fenomena pada kelompok individu yang semuanya telah mengalami fenomena tersebut.
  • Pembahasan filosofis tentang ide dasar yang dilibatkan dalam studi feminologi.
  •  Pada sebagian bentuk feminologi, peneliti mengurung dirinya di luar  dari studi terebut dengan mebahas pengalaman priibadinya dengan fenomena tersebut.
  • Prosedur pengumpulan data secara khas melibatkan wawancara terhadap individu  yang telah mengalami fenomena tersebut.
  • Analisi data menggunakan prosedur sistematis yang bergerak dari satuan analisis sempit menuju satuan yang lebih luas..
  • Fenomenologi diakhiri dengan bagian deskriptif yang membahas esensi dari pengalaman yang dialami individu tersebut dengan melibatkan “apa” yang dialami dan “bagaimana” mengalaminya.
Ada dua pendekatan dalam riset fenomenologi  dalam pembahasan ini yaitu fenomenologi hermaneutik dan fenomenologi empiris, tran sedental, atau psikologis. Fenomenologi hermeuneutik mendiskripsikan bahwa riset yang dilakukan diarahkan  pada pengalamam hidup (fenomenologi) dan ditunjukkan untuk menafsirkan “teks” kehidupan (hermeneutika). Sedangkan fenomenologi transdental atau psikologis kurang berfokus pada penafsiran dari peneliti, namun lebih berfokus pada deskripsi pada penafsiran tentng pengalaman dari partisipan tersebut. Para peneliti dalam fenomenologi transdental atau psikologis menyingkirkan pengakaman mereka  sejauh mungkin untuk memperoleh perspektif yang baru terhadap fenomena yan sedang dipelajari.
Riset fenomenologi memiliki langkah-langkah procedural yang utama dalam prose penelitian yaitu sebagai berikut :
  1. Peneliti menetukan apakah problem risetnya paling baik dipelajari dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.
  2. Menentukan fenomena yang menarik untuk dipelajari .
  3. Peneliti mengenali dan menentukan asumsi filosofis di luar fenomenologi.
  4. Data dikumpulkan dari individu yang mengalami fenomena tersebut
  5. Para partisipan diberikan dua pertanyaan umum.
  6. Langkah analisis data fenomenologi secara umum sama untuk semua fenomenolog psikologis yang membahsas metode.
  7. Pernytaan penting dari tema ini kemudian digunakan untuk menulis deskripsi tentang apa yang dialami oleh partisipan
  8. Dari deskripsi structural dan tekstural tersebut, peneliti kemudian menulis deskripsi gabungan yang mempresentasikan esensi dari fenomena tersebut.


Fenomenologi menyediakan pemahaman yang mendalam tentang fenomena sebagaimana yang dialami oleh beberapa individu. Mengetahui pengelaman yang sama sangat penting dan bermanfaat bagi kelompok. Fenomenologi dapat melibatkan satu bentuk pengumpulan data yang efisien hanya dengan memasukkan satu atau lebih wawancara dengan para partisipan. Penggunakan pendekatan yang dicetuskan Moustakes dalam menganalisis data dapat membantu peneliti menyediakan pendekatan structural bagi para peneliti. 

Komentar